Protes Tambahan Waktu 7 Menit di Laga Indonesia vs Bangladesh, FAM Kirim Surat Resmi ke FIFA
Protes Tambahan Waktu 7 Menit di Laga Indonesia vs Bangladesh, FAM Kirim Surat Resmi ke FIFA
Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) secara terbuka melayangkan permintaan resmi kepada FIFA untuk mengklarifikasi alasan di balik perubahan drastis durasi waktu tambahan (*injury time*) dalam duel pamungkas Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 antara Timnas Indonesia kontra Bangladesh. Keberatan tersebut muncul menyusul papan indikator ofisial yang awalnya menampilkan tambahan waktu dua menit, namun mendadak melar hingga tujuh menit.
Bentrok antara Indonesia melawan Bangladesh tersaji di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta. Skuad Garuda sukses mengunci kemenangan telak 9-2, hasil yang sekaligus memastikan tiket lolos ke partai puncak berkat keunggulan produktivitas gol atas Tim Harimau Malaya.
Dinamika persaingan di grup ini memang berjalan sangat dramatis hingga detik-detik akhir. Indonesia dan Malaysia sama-sama mengantongi perolehan tujuh poin serta catatan selisih gol persis di angka +9. Kendati demikian, Garuda unggul agresivitas setelah membukukan total 11 gol sepanjang fase penyisihan grup.
Kemenangan telak Indonesia dipastikan lewat gelontoran tiga gol di penghujung babak kedua; dimulai dari aksi Luke Vickery pada menit ke-90, disusul eksekusi Kevin Diks di menit ke-90+6, sebelum akhirnya Mitchell Baker menutup pesta gol lewat torehan pada menit ke-90+7.
FAM Tuntut Transparansi Perubahan Injury Time
Lonjakan durasi tambahan waktu yang berujung pada terciptanya gol-gol penentu tersebut langsung memantik reaksi keras dari kubu tetangga. FAM menyatakan bakal segera mengirimkan surat pertanyaan terbuka kepada otoritas tertinggi sepak bola dunia untuk mendalami dasar regulasi dan pertimbangan teknis perangkat pertandingan.
βDalam jalannya laga tersebut, durasi stoppage time yang mulanya diumumkan selama dua menit secara mendadak berubah menjadi tujuh menit,β tulis pihak FAM dalam rilis resminya.
Bagi federasi sepak bola negeri jiran tersebut, manajemen waktu di atas lapangan merupakan elemen fundamental yang harus dijalankan secara transparan sesuai prosedur baku.
Drama Sengit Penentuan Tiket Final
Sebelum drama di Jakarta memuncak, Malaysia sejatinya sempat di atas angin usai membantai Singapura dengan skor meyakinkan 6-0 di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung. Pesta gol Harimau Malaya diwarnai trigol dari Bergson serta tambahan dari Stuart Wilkin, Paulo Josue, dan Muhamad Syahir Bashah.
Hasil itu sempat membawa Malaysia memegang kendali klasemen akhir dengan tujuh poin dan selisih gol +9. Namun, regulasi produktivitas gol total membuat Indonesia berhak menduduki singgasana teratas karena mencatatkan jumlah memasukkan bola yang lebih tinggi.
Berdasarkan catatan statistik resmi FIFA, Garuda membutuhkan tambahan dua gol di masa *injury time* untuk menyalip keunggulan produktivitas gol Malaysia. Gol dramatis dari Kevin Diks dan Mitchell Baker di pengujung laga akhirnya menjadi pembeda mutlak.
Tegaskan Tidak Gugat Hasil Pertandingan
Meski melayangkan nota protes administratif, pihak FAM memberikan penegasan kuat bahwa langkah ini sama sekali bukan upaya untuk mencederai hasil akhir laga Indonesia kontra Bangladesh ataupun mempertanyakan hak kelolosan skuad asuhan pelatih Garuda ke babak final.
Fokus utama mereka murni menuntut penjelasan komprehensif terkait mekanisme pengambilan keputusan wasit di lapangan.
βFAM ingin menggarisbawahi bahwa permohonan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan hasil akhir pertandingan ataupun mempermasalahkan pencapaian tim manapun,β tegas pernyataan tersebut.
Mengingat insiden tersebut berdampak langsung pada peta persaingan zona lolos ke partai puncak, FAM berharap pihak FIFA dapat melakukan evaluasi mendalam serta memberikan transparansi regulasi demi menjaga sportivitas kompetisi regional.
